Airlangga Klaim Ekonomi RI Tangguh, Target 2027 Lebih Berat
Namun, pemerintah masih menghadapi tantangan untuk menjaga momentum pertumbuhan dan mengejar target ekonomi yang lebih tinggi dalam beberapa tahun ke depan.
Airlangga mengatakan, sejumlah indikator ekonomi domestik masih menunjukkan kinerja positif.
Pada triwulan I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh permintaan domestik, percepatan belanja pemerintah, investasi, dan pemulihan sektor manufaktur.
"Pemerintah terus menerapkan kebijakan fiskal yang prudent namun tetap bersifat countercyclical guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat. Reformasi subsidi juga terus dilanjutkan melalui peningkatan ketepatan sasaran penerima manfaat," kata Airlangga saat peluncuran laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026, Jumat (12/6/2026).
Baca juga: Airlangga: Ekspor Listrik ke Singapura Tunggu Pembangunan Transmisi 1,5 Tahun
Airlangga mengatakan, inflasi tercatat sebesar 3,08 persen. Neraca perdagangan juga masih mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut.
Sementara itu, cadangan devisa Indonesia mencapai 144,9 miliar dollar Amerika Serikat (AS).
Dari sisi ketenagakerjaan, tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,68 persen. Dalam setahun terakhir, terdapat tambahan sekitar 1,9 juta lapangan kerja.
Realisasi investasi pada triwulan I-2026 mencapai Rp 498,79 triliun. Nilai tersebut tumbuh 7,22 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Investasi itu menyerap 706.569 tenaga kerja atau meningkat 18,93 persen secara tahunan.
Baca juga: Ekspor Ferro Nikel Diatur, Airlangga Sebut Ekosistem EV Tetap Aman
Airlangga mengatakan, investasi di sektor hilirisasi dan masuknya perusahaan hyperscaler global memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat ekonomi digital dan data center di kawasan.
Meski sejumlah indikator membaik, pemerintah tetap menyiapkan langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Salah satunya melalui kebijakan retensi 100 persen devisa hasil ekspor (DHE) nonmigas di dalam negeri selama 12 bulan.
Pemerintah juga memperluas penggunaan transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT).